“Manuver Kobra” Grup Lion dan Mencuatnya Rusdi Kirana jadi Calon Menhub




Dalam sepekan kemarin, publik dibuat tercengang oleh dua rencana besar Lion Group. Bagaimana tidak, rencana Lion mengembangkan Bandara Halim Perdanakusuma dan pembangunan pusat perawatan mesin pesawat di Batam, diperkirakan akan menguras kocek lebih dari Rp 10 triliun.

Saking hebohnya, beberapa awak media berceloteh dengan menyebut dua rencana besar Lion itu sama saja “mengangkangi” maskapai-maskapai penerbangan besar lainnya. Bukan tanpa sebab, pasalnya dalam beberapa bulan terakhir ekspansi bisnis Lion pun nampak sepi dari pemberitaan media.

Manuver Cobra

Melihat aksi Lion dalam sepekan itu, nampak terlintas salah satu manuver paling berani dalam dunia penerbangan yaitu manuver cobra. Suatu aksi menuver tersulit yang kerap dilakukan oleh pilot pesawat-pesawat tempur canggih yang dimiliki angkatan udara berbagai negara.

Hampir sepanjang 2014 ini, Lion terlihat nampak tenang-tenang saja dalam pengelolaan bisnisnya. Mungkin salah satu yang menyita perhatian media adalah batalnya rencana Lion menjadi investor Kereta Api Express bandara dari Soekarno-Hatta sampai ke Halim Perdanakusuma pada Juli lalu.

Selain itu, pemberitaan mengenai Lion yang mencuat terkait dengan pelayanan penerbangan di bandara. Seperti beberapa maskapai lain, Lion juga memiliki masalah klasik terkait delay keterlambatan pesawat yang kemudian memunculkan kekecewaan dari pengguna jasa angkatan penerbangaan.

Namun, ketenangan itu berubah jadi hiruk pikuk pada 14 Oktober 2014. Lion secara tiba-tiba mengumumkan akan mengembangkan Bandara Halim Perdanakusuma dan akan mengambilalih bandara itu dari tangan Angkasa Pura II. Di hari yang sama Lion langsung menggandeng PT Adhi Karya Tbk sebagai pembuat desain proyek bandara, yang diperkirakan menelan dana Rp 5 triliun tersebut.

Rencana Lion itu langsung ditanggapai Kementerian Perhubungan sebagai regulator penerbangan nasional. “Prinsipnya, kalau keterbatasan dana pemerintah, kita terbuka swasta membangun bandara. Swasta boleh dengan syarat harus membuat Badan Usaha Bandar Udara,” ujar Plt Menteri Perhubungan Bambang Susantono ketika ditemui di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Sementara itu, AP II sendiri nampak cemas dengan recana Lion tersebut. Meskipun demikian AP II mengemukakan akan tetap menunggu bagaimana keputusan pengelolaan Bandara Halim nantinya. Bak gayung bersambut. Menteri Badan Usaha Milik Negera (BUMN) Dahlan Iskan mengimbau AP II agar tidak ngotot memperebutkan pengelolaan bandara yang dulunya bernama Bandara Cililitan tersebut.

“Tentu (akan merugi AP II), tetapi kan itu bukan milik AP II, itu TNI AU kalau TNI AU memutuskan A, AP II gak boleh ngotot,” kata Dahlan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (16/10/2014). Kejutan belum usai. Sehari berselang, Lion mengumumkan kerjasama dengan CFM International untuk menangani perbaikan komponen dan pergantian suku cadang pesawat atau maintenance, repair and operations (MRO) selama 25 tahun. Rencananya, kerjasama yang diperkirakan menelan dana miliaran dollar AS itu akan pusatkan di pusat perawatan mesin yang juga akan dibangun Lion di Batam.

Rusdi Kirana si Calon Menhub

Dua manuver kobra Lion dipenghujung pemerintahan SBY-Boediono bisa jadi bukan hanya bermakna bisnis. Pasalnya, di kalangan wartawan sendiri mencuat nama Rusdi Kirana sebagai calon kuat Menteri Perhubungan dibawah komando presiden terpilih Joko “Jokowi” Widodo.

KONTAN Rusdi Kirana

Mencuatnya nama Rusdi, jelas baru beredar dikalangan wartawan sejak sepekan ini–-bersamaan dengan dua manuver yang dilakukan Lion. Di sisi lain, mencuatnya nama Rusdi Kirana juga diperkirakan karena Rusdi merupakan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang merupakan mitra Jokowi dalam Koalisi Indonesia Hebat. Meskipun demikian, jika merujuk kepada dua manuver Lion dalam sepekan, nampaknya bos Lion Group itu memiliki andil besar.

Menurut Direktur Umum Lion Air Edward Sirait, dua rencana besar Lion itu berkat kecerdikan President dan CEO Lion Air yaitu Rusdi Kirana. Bahkan Edward tak sungkan memuji bosnya itu. “Insting bos saya ini luar biasa, dia tahu kalau situasi Bandara Soekarno- Hatta bakal stagnan seperti sekarang ini,” kata Edward.

Dia mengatakan kekagumannya kepada insting Rusdi Kirana, karena bos Lion itu sudah memikirkan pengembangan bandara Halim sejak 10 tahun lalu. Akhirnya, Lion nekat masuk dan bekerjasama dengan TNI AU sebagai pemilik Bandara Halim untuk mengembangkan bandara itu.

Sebelumnya, nama direktur PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan malah diperkirakan menjadi calon kuat Menhub. Pasalnya, Jonan dianggap berhasil mengubah citra kereta api (KA) menjadi sangat baik pada masa kepemimpinannya. Bahkan, Jonan pun sudah perah dipanggil untuk bertemu dengan Jokowi.

Sumber berita http://www.infopenerbangan.com/

Pudi Hartoyo

Pudi Tour and Travel hadir disini untuk melayani anda sebagai sahabat, Keluarga dan mitra kerja yang siap melayani segala kebutuhan wisata anda.

Tidak ada komentar: